Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Ketidaktahuan

Semua berjalan, apakah sesuai kehendakmu. Kamu pernah rapuh menangis karena ketidakmampuanmu sendiri. Sendiri iya sendiri tidak ada orang yang tahu kamu menangis. Karena kamu memilih tersenyum menatap orang lain. Kebahagiaan yang tidak kamu tampakkan ataupun kesedihan yang tidak ingin kamu perlihatkan. Seperti semua berjalan datar, datar menurut orang lain. Kamu menjadi pengamat, kamu mengamati, kamu menilai, kemudian tengok dirimu sendiri. Kenapa mereka? Kamu tanya lagi kenapa mereka sedangkan aku. Pertanyaan berkali kali muncul, tapi cukup kamu rasakan sendiri, bermonolog ria sehingga seperti biasa, perasaan datar. Ingin mengatakan apa maksudmu tapi kamu tidak tahu apa yang ingin kamu katakan kepadanya. Kamu tidak suka mengkomunikasikan perasaanmu.  Kamu tetap bisa tersenyum atau pura pura tersenyum, padahal kamu menahan rasa kecewa. Kamu diam, kamu mencoba mengalihkan perhatian dari mereka. Ya perasaan datar, kamu cukup bilang aku tidak apa apa, karena memang tidak...

Cuma Ngomong Juga Berguna

Apakah berkata itu harus secara lisan, kalau dilihat dari arti kebiasaan yang digunakan pada umumnya, memang berkata menggunakan lisan. Tapi jika kata berkata itu diubah menjadi kata komunikasi, maka maknanya akan meluas. Menurut KBBI komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yg dimaksud dapat dipahami, atu juga bermakna hubungan kontak. Jadi pada intinya berkomunikasi adalah menyampaikan maksud kita kepada orang lain.  Menyampaikan secara lisan maupun tertulis memiliki kesan yang berbeda. Ada yang lebih mantap kalau menyampaikan maksud menggunakan lisan. Namun juga tidak sedikit yang suka menyampaikan pesan lewat tulisan. Semua punya kenyamanan berbeda beda tergantung individu masing masing, tapi tergantung kepentingan juga sih. Ketika kebiasaan berbicara di depan umum belum terlatih ataupun tertatih atau apalah itu, mungkin dengan menulis apa yang ingin kita katakan lebih nyaman. Apabila berbicara masih terba...

Katakan Hai Pagi

Pagi memulai hari dengan sambutan hangat dan terangnya sinar mentari. Karena tujuan ingin mencari sebuah jalan penuh arti, kaki tetap melangkah. Melewati dan menghempaskan dengan paksa keinginan untuk berhenti di jalan ini. Melewati hari seperti biasanya, rutinitas dikala sendiri dan bersama orang lain yang tak pernah berhenti.  Pagi..., melangkah masuk dalam ruang kelas seperti biasa. Terlalu pagi kuawali, bukan karena simfoni yang menarik hati, karena ingin segera menikmati wifi. Baru melangkah kaki ada pertanyaan menghampiri... eaa memukau sekali pertanyaannya, ada yang mau kenalan denganmu. Hati langsung seperti tersengat lebah sakit sekali. Menandakan betapa tidak populernya diri ini. Oh ya, kujawab singkat tapi mengena di memori. Teman sebelahku terpukau sampai tak menyangka, dan hanya berkata cie cie. Kami bukan seperti ikan yang mudah terpancing dengan umpan yang datang menghampiri, karena kami manusia. Darimana datangnya matahari? matahari terbit dari timur,...