Satu Kembali, Satu Pergi
Ku beranikan diri untuk mengawali,
walupun berat dengan segala pertanyaan kenapa harus aku yang mengawali. Kuacuhkan,
oke sepertinya harus mengalah melawan ego untuk menghempaskan rasa bersalah
ini. Tapi tetap saja pertanyaan masa iya aku yang salah, kan dia yang
menghapusnya haha.
Nice, responnya membuka jalan baru, jalan yang selama ini tertutup debu yang sangat tebal. Hampir saja menutup ruang hubungan tak berpenghuni itu. meskipun rasa tak terima masih meronta ronta dalam banyak kalimat tanya, tapi tertahan demi jalan baru.
Ku utarakan maksudku dan kau dengan
penjelasanmu, oke oke. Basa basi demi kedamaian yang tercipta. Semakin lama
jawaban semakin dingin bermula rangkaian kalimat menjadi paragraf hingga hanya
sebuah emoticon ekspresi.
Hari hari kemudian berlalu. Ku lihat
dia dari jauh mulai mendekat, melewati tanpa ragu, tanpa suara. Melintas lagi
dalam benak memang jalan baru itu belum terbuka. Karena aku juga sama sama
diam. Dia berjalan semakin dekat aku diam menatap kertas dan pena di depanku duduk
menghempaskan badan di atas kursi. Fikiran kacau terlintas lagi, ekspresi apa
yang terlintas dalam sorot matanya tak kulihat.
Jalan jalan itu kembali ramai, kulihat
dari cendela lantai dua ruangan ini. musik ku putar, menenggelamkan suara
sekitar. Daftar musik dalam handphone
kuputar secara acak sambil menebak nebak, lagu berikutnya sepertinya suasana
hati dia, haha.
Namun, entah kenapa ini sebuah
kesadaran atau aku yang terlalu banyak mengira ngira. Ketika satu hal sudah
selesai kau sapa, hal lainnya menghilang, menghilang dan menghilang. Menghilang,
untuk disapa lagi. Memikirkan banyak hal sepertinya kau akhir akhir ini,
rehatlah, menelisik atau menerka nerka sebenarnya dirimu itu, sudahlah... suara
yang terdengar entah dari siapa. Peduli dengan orang lain? Hmm hmm, egois juga
perlu ga sih biar beban kita berkurang. karena kebanyakan peduli? kebanyakan
peduli dengan pemikiran diri sendiri, dan meniadakan kemungkinan alasan orang
lain.
Keberpihakan terhadap dua hal, sepertinya jika kita memilih satu, satu hal lainnya akan pergi. Entah benar tidaknya apa yang kita pilih. Dan apakah salah yang pergi itu?
Komentar
Posting Komentar