Sahabat Kabut
Sahabat
Kabut
Agustus 2012
Sinta masih berharap dengan
kabutnya. Maka, seperti biasa ia akan berlari ke sawah di samping rumahnya. Di
mana kabut selalu tebal di pagi kemarau. Hari in, meski masih pancaroba, tapi
sepertinya kabut sudah tebal menggantung di atmosfer desanya. Sinta selalu
mencintai desanya yang berkabut, meski ia tahu ia akan meninggalkannya begitu
saja suatu saat nanti. Mungkin perlahan, dimulai dari perantauan sederhananya
menuntut ilmu. Mungkin menikah lalu pergi begitu saja, atau mungkin desanya
yang berada di dataran rendah ini akan tenggelam karena air laut yang semakin
naik lewat kali diseberang jalan. Yang jelas, dalam beberapa hari kaedepan ia
sudah harus beranjak dari desanya merantau ke daerah lain untuk kuliah.
Ada banyak hal yang dilakukan
sinta di tengah kabut yang mengambang tebal. Merenungi perjalanan hidupnya yang
serba biasa biasa saja, memikirkan keluarganya yang biasa saja, atau mengharap
kehadiran temannya yang luar biasa. Baginya, kabut memberikan penutup di ruang terbuka.putih, dingin, tapi sejuk.
Baginya kabut adlah kawan yang paling setia yang menutupi keburukannya. Apakah
kabut adalah makhluk?
2 juli 2006
“ kau yakin kau akan pergi
si?” sinta bertanya dengan suara
gemetar. Bukan hanya karena dingin tetapi karena ketakutannya kehilangan.
Kawannya, sasi hanya menunduk menekuri pematang sawah yang kering. Dicobanya
untuk mengamati raut wajah sinta, namun rupanya kabut sudah terlampau tebal.
“ aku hanya pergi sin bukan
melupakan. Kau sendiri yang bilang kita sudah terlampau sering bersama hingga
jarak ribuan kilometer cahaya pun tak akan membuat kita saling melupakan” kata
sasi menghibur diri sendiri.
“ entahlah aku takut engkau
melupakan semua yang telah kita rencanakan”
“Rencana kita akan terwujud
suatu saat nanti. Lagi pula, kita hanya berjauhan. Masih banyak sekali cara
untuk berhubungan kan?” sasi tersenyum, meski ia tahu sinta tidak akan melihat
senyumannya di tengah kabut.
2 juni 2006
Sinta msih merenungi nasibnya
sendiri yang selalu iri kepada adiknya. Rasanya sulit untuk tidak iri. Padahal
ia tahu bahwa adiknya itu masih kecil belum dapat bermain logika. Apa jadinya
kalau kinginannya tidak dipenuhi? Beda dengan dirinya yang sudah kelas 5 SD.
Tentu saja ia sudah mampu membedakan yang ia butuhkan dan tidak. Ia sudah
beranjak dewasa dan tahu bagaimana seharusnya bersikap. Ia ingin seperti ayahnya
yang tidak pernah iri meski ibu sering kali membeli baju baru hanya untuk
dirinya sendiri. Apakah memang makin bertambahnya usia membuat orang semakin berfikir
realistis dan kehilangan rasa iri?
Andaikan memang benar, maka ia
sungguh ingin segera dewasa.
“ terkadang orang tua justeru
seringkali iri pada hal hal kecil, sin.” Kata sasi mencoba memberi jawaban.”
Iri adalah rasa paling alamiah yang menandakan bahwa engkau masih seorang
manusia.” Lanjutnya tersenyum.
“ kau memang bijak, aku ingin
tahu apa yang dapat mengalahkanmu.” Sinta menyeringai dengan senyum nkalanya.
Kabut yang hanya sedikit ini membuat sasi dapat melihat seringai sinta dengan
jelas.
“ seringaimu itu yang dapat
mengalahkanku”
Kabut selalu menjadi pihak
ketiga yang menjadi penyejuk mereka bersama. Dan sawah adalah tempat bermain
yang menyegarkan setiap permasalahan mereka. Sedangkan kemarau adalah waktu
senggang sehingga mereka dapat berkunjung ke taman bermain mereka. Tapi kabut
kali ini hanya tipis saja.
“ orang tuaku akan pergi ke
jakarta. Mungkin mencari penghidupan, mungkin juga untuk menghindar dari para
penagih hutang. Aku tidak diberi tahu untuk alasan apa. Yang jelas, aku harus
pergi dari desa ini.”
2 april 2006
“ apa rencanamu?” sasi memnacing
jawaban sinta. “ aku malu.” Katakan saja. Tidak ada orang lain disini. Andaikan
pun ada orang lain yang mendengarkannya, ia tidak akan tahu siapa yang bicara.
Kabut sudah turun.”
“ aku ingin seperti mbak inar.
Ia cantik, pandai, sholeha, sabar menghadapi anak TPA yang paling kita benci
sekalipun, ia juga sabar menghadapi kita dan tujuh kawan kita yang sering
mangkir halaqqoh. Mbak inar tidak pernah marah meski beliau tahu kita sering
bermalas malasa di rumah padahal beliau selalu meminta kita untuk tidak
bermalas malasan. Mbak inar itu, anak orang kaya di kotanya, tapi ia lebih
memilih tinggal di desa kita yang berkabut dan jadi dokter kampung. Beliau
begitu sederhana dengan kalimat kalimatnya yang panjang dan menyejukkan. Entah
apa yang sudah mbak inar lakukan, yang jelas aku selalu merasa damai tiap kali
mbak inar sudah memulai kalimat kalimatnya” jelas sinta.
“ akupun ingin demikian” timpal
sasi menyetujui. “ satu hal lagi yang aku recanakan. Menjadikanmu sahabat yang
paing aku percaya.”
2 desember 2012
“ Maksudnya apa?” sinta terkejut mendapati sasi yang kini
berbeda setelah tujuh tahun perantauannya.
“ ayolah sin, kau sudah dewasa.
Masa aku tidak iri melihat kawanmu yang sudah memiliki pacar. Hampir semua
kwanmu pasti sudah memiliki pacar. Apalagi kamu cantik” sasi membujuk.
“ kau tampak berbeda si” tampak
ada nada kekecewaan dri nada bicara sinta.
“ aku masih yang dulu. Aku masih menyukai
kabut.”
“ selebihnya berbeda. Kau lupa
bahwa kau ingin seperti mbak inar, kau sudah tidak lagi berhallaqoh, kau lebih
iri pada ornag lain daripada rasiomu sendiri. Kau lupa kau pernah berkata tidak
akan pernah berkata tidak akan berpacaran karena hal itu dilarang islam. Dan,
sekarang kau lebih kekanak kanakan dari dulu...” sinta berkicau sambil menerka
nerka apa yang telah terjadi pada kawannya. Di kota sana.
“ dunia ini sudah tidak
membutuhkan sosok seperti yang kau gambarkan, sin, kecuali kau tetap mau
seperti ini. Seperti orang yang terbelakang. Kau akan menemukan realita di kota
bahwa seuanya adalah persaingan. Aku harus bersaing untuk sukses”
Sinta yang sedih. Dilihatnya kawannya tampak
semakin kerdil dengan egonya. Bahwa hidupnya hanya di dunia dan demi pergaulan
ala remaja kota. Ia lupa bahwa mbak inar juga adalah gadis kota yang cantik,
tapi ia tetap seoarang mbak inar. Pemandu halaqoh.
Kabut akhirnya naik memperlihatkan lutut
seorang sasi yang terbuaka.

Komentar
Posting Komentar