Katakan Hai Pagi
Pagi memulai hari dengan sambutan hangat dan terangnya sinar
mentari. Karena tujuan ingin mencari sebuah jalan penuh arti, kaki tetap
melangkah. Melewati dan menghempaskan dengan paksa keinginan untuk berhenti di
jalan ini. Melewati hari seperti biasanya, rutinitas dikala sendiri dan bersama
orang lain yang tak pernah berhenti.
Pagi..., melangkah masuk dalam ruang kelas seperti biasa.
Terlalu pagi kuawali, bukan karena simfoni yang menarik hati, karena ingin
segera menikmati wifi. Baru melangkah kaki ada pertanyaan menghampiri... eaa
memukau sekali pertanyaannya, ada yang mau kenalan denganmu. Hati langsung
seperti tersengat lebah sakit sekali. Menandakan betapa tidak populernya diri ini. Oh
ya, kujawab singkat tapi mengena di memori. Teman sebelahku terpukau sampai tak
menyangka, dan hanya berkata cie cie. Kami bukan seperti ikan yang mudah
terpancing dengan umpan yang datang menghampiri, karena kami manusia.
Darimana datangnya matahari? matahari terbit dari timur,
tenggelam di barat. Bukan itu yang ingin kutanyakan. Lalu apa yang ingin kau
tanyakan, sebenarnya yang ingin kutanyakan adalah mengapa ketika melihatnya
seperti ada sinar gitu, hah aku ga paham, sepertinya gombalan gagal.
Perbincangan pagi dengan teman sebelah kursi, yang mulai merasakan terkena
virus pantulan cahaya yang ga bisa diukur pakai angka.
Kelas bersama pukul 13.00 adalah sebuah tempat dimana
perpaduan kelas pagi hari, menghabiskan sisa energi sarapan pagi. Pukul 15.00
kutunggu bis yang mau menangkut kami para penglaju setiap hari. Disitulah kami
mulai saling memahami, lah eh Cuma saling mengenal nama. Di bis apa di kelas,
rumah kami bukan satu jurusan.
Terlalu lama termenung sendirian, memperhatikan mereka asyik
mengobrol. Mungkin diriku terlalu asyik dengan dunia kecil sendiri. Bagaimana
cara membuat setiap perkataan menjadi terstruktur. Bagaimana menyederhanakan ke
abstrakan ini. Bagaimana proses menjadi tidak membosankan itu. Bis melaju melawati
rute seperti biasanya. Sesekali memejamkan mata, menyandarkan kepala ke kursi
belakang. Terbangun lagi melihat cendela kaca, masih jauh nampaknya tempat
tujuan.
Wkwk ternyata kita sebangku lagi, ucap sebelahku. Ya kalau
udah nyaman bagimana, cari pasangan yang klop itu susah. menemukan gembok
dengan kunci yang terpisah itu susah. kok aku bisa ngomong banyak banget kalau
sama dia. Seberapa lama membuka gembok dengan kunci, kalau kunci itu bukan
pasangannya gembok, ya ga akan kebuka. Kami tetap berfikir bagaimana cara
mengerjakan soal itu, padahal udah mentok ga ngerti bagaimana dan masih sok
mikir.
Lama lama aku jadi memperhatikannya, dengan kecuekanku dan
hanya sapaan senyum. Karena sulit mencari topik apa yang pas untuk dibicarakan.
Seberapa lamakah bertahan, seberapa lamakah dia akan berjuang, akankah dia
berpaling. Dia tetap berusaha meskipun kedinginan air hujan mengguyurnya. Dia
tetap asyik menikmatinya, atau dia memendam rasa yang sulit untuk dia katakan
langsung, dan tetap berusaha menyampaikan apa yang dia maksud lewat celah yang
terbuka. Suasana siang hari ketika sedang melakukan eksperimen bagaimana
hubungan kecepatan air hujan menyerap ke dalam berbagai jenis tanah yang
berbeda, dengan alat buatannya itu. Disitulah ironi terkadang dia memahami apa
masalahku, dan aku tidak bisa memahami masalah dia. Dan ingin ku katakan bagaimana aku bisa mendengar kalau kau tidak berucap. Mungkin aku hanya bisa
memberikan sumbangan kata semangat baik tersampaikan maupun tidak dan mungkin
berpengaruh atau tidak.
Komentar
Posting Komentar