Cuma Ngomong Juga Berguna
Apakah
berkata itu harus secara lisan, kalau dilihat dari arti kebiasaan yang
digunakan pada umumnya, memang berkata menggunakan lisan. Tapi jika kata
berkata itu diubah menjadi kata komunikasi, maka maknanya akan meluas. Menurut KBBI
komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang
atau lebih sehingga pesan yg dimaksud dapat dipahami, atu juga bermakna
hubungan kontak. Jadi pada intinya berkomunikasi adalah menyampaikan maksud
kita kepada orang lain.
Menyampaikan
secara lisan maupun tertulis memiliki kesan yang berbeda. Ada yang lebih mantap
kalau menyampaikan maksud menggunakan lisan. Namun juga tidak sedikit yang suka
menyampaikan pesan lewat tulisan. Semua punya kenyamanan berbeda beda
tergantung individu masing masing, tapi tergantung kepentingan juga sih. Ketika
kebiasaan berbicara di depan umum belum terlatih ataupun tertatih atau apalah
itu, mungkin dengan menulis apa yang ingin kita katakan lebih nyaman. Apabila berbicara
masih terbata bata dan membuat orang lain sulit memahami karena grogi, cobalah
untuk menulis. Hmm tapi memang melihat orang yang jago ber public speaking itu
keren. Apalagi perpaduan keduanya tulisan dan berbicara
Pernahkah
engkau merasa ketika engkau berkata ataupun menulis, engkau takut apakah
perkataan ataupun tulisan itu akan kamu lakukan ataupun tidak, engkau minder
bagaimana nanti orang lain akan menanggapi. Hmm sulit ya menghilangkan
kemungkinan kemungkinan pemikiran di dalam otak. Bisa jadi negatif thinking
atau positive thinking. Over think, dan kebanyakan jadi wacana huwaaa. Dan banyak
yang bilang “ngomong tok penak, ngelakoni
seng angel”, bener banget sih, misal kita ngomong yang sabar ya, semangat
teman, dll. Belum tentu juga kita dapat melakukan hal yang sama ketika kita
diposisinya dia. Tapi, bisa jadi cuma “omongan kita” bisa memotivasi orang lain untuk do more iya
ga sih?. Tapi juga berlaku hukum kebalikan, “Cuma omongan” jadi memberantakin
mood orang lain. Jadi “Cuma ngomong” juga berdampak besar, “Cuma ngomong” dapat
menginspirasi orang lain. Atau ide yang berasal dari omongan kita
diimplementasikan orang lain, kan jadi berguna cuma ngomong. Ketika mengerjakan
sesuatu, semisal kerja kelompok, ada yang cuma ngomong, nyuruh ini itu tapi do
less, nyebelin ga? Iya sih. Coba berfikir positive, tapi orang orang yang
seperti itu juga sudah menyumbangkan ide
secara tidak langsung, daripada diam dan tidak melakukan apa apa setidaknya
memberi respon, tapi lebih baik kalau ngomong juga dikerjakan.
Ketika cuma sebuah kata dapat menginspirasi orang lain untuk do more kenapa tidak?,
mengkritik semisal, tidak semua orang mampu menyampaikan kritikan secara
terbuka, itu merupakan sebuah keberanian. Tidak semua orang punya mental
pemberani mengkritik orang lain. Bukankah manusia itu punya kelebihan dan
kekurangan. Persoalannya terkadang adalah ketika kita mengkritik tapi kita
belum mampu melakukan apa yang kita ucapkan. Tapi bukankah dengan kita membuka
mulut ataupun dengan tulisan yang kita sampaikan walaupun kita sendiri belum
dapat melakukannya, mungkin ada orang ahli yang terinspirasi dengan ucapan
ataupun tulisan kita dan orang itu jadi termotivasi untuk melakukan hal
tersebut. Kan berkat cuma omongan ataupun tulisan juga. Jadi omangan ataupun
tulisan kritikan juga sebuah kemampuan. Tapi ingat lidah adalah senjata yang tajam, ada resiko menantang karena lidah. Diam pada tempatnya juga pilihan yang baik. ingat kata kunci pada tempatnya.
Mengkritik
itu berbeda dengan memaki. Ketika kita mengkritik berarti kita berusaha
menilai, dengan harapan dapat memperbaiki kesalahan maupun kekurangan. Namun ketika
memaki berarti kita telah men judge dengan segala keburukan yang ada dan
meremehkan, tanpa berusaha berfikir bahwa semua dapat berubah dari keburukan
menjadi kebaikan.
Komentar
Posting Komentar