Satu Kembali, Satu Pergi
Ku beranikan diri untuk mengawali, walupun berat dengan segala pertanyaan kenapa harus aku yang mengawali. Kuacuhkan, oke sepertinya harus mengalah melawan ego untuk menghempaskan rasa bersalah ini. Tapi tetap saja pertanyaan masa iya aku yang salah, kan dia yang menghapusnya haha. Nice, responnya membuka jalan baru, jalan yang selama ini tertutup debu yang sangat tebal. Hampir saja menutup ruang hubungan tak berpenghuni itu. meskipun rasa tak terima masih meronta ronta dalam banyak kalimat tanya, tapi tertahan demi jalan baru. Ku utarakan maksudku dan kau dengan penjelasanmu, oke oke. Basa basi demi kedamaian yang tercipta. Semakin lama jawaban semakin dingin bermula rangkaian kalimat menjadi paragraf hingga hanya sebuah emoticon ekspresi. Hari hari kemudian berlalu. Ku lihat dia dari jauh mulai mendekat, melewati tanpa ragu, tanpa suara. Melintas lagi dalam benak memang jalan baru itu belum terbuka. Karena aku juga sama sama diam. Dia berjalan semakin dekat aku d...