Curhatan



Apa yang akan tertulis belum pasti menggambarkan apa yang sedang ingin dikatakan penulisnya. Hari hari yang riuh, tanpa sadar waktu cepat sekali terlalui. Permasalahan apa yang akan mengawali tulisan ini, ketidakjelasan pada satu tema tertentu. Sehingga macam macam hal akan tersampaikan. 

Sudah banyak kejadian yang awalnya kita membencinya, kita mengatakan ini itu dengan nada ketidaksukaan, namun pada akhirnya kita mengingkari sendiri perkataan tersebut. Atau bisa jadi kita mendengar seseorang mengatakan ini itu pada sesuatu ataupun seseorang, lantas pada akhirnya kalimat itu terbalik. disitulah terkadang kita menyakiti seseorang, tanpa sadar. Banyak kalimat terucap namun semua yang kita ucapkan berbalik arah. Ataupun sebaliknya berawal suka menjadi tidak suka. Apakah keterbalikan fakta itu akan melukai?. Ingin rasanya suatu hari apa yang ingin kukatakan adalah netral. Karena orang akan mengatakan dasar munafik, padahal kamu sendiri tidak akan tahu apa yang kamu alami suatu saat nanti dengan perkataanmu, perasaanmu, fikiranmu, dan tindakanmu, karena ada dzat yang maha membolak balikkan hati. 

Orang menghampiriku ketika pertama kali mereka mengenalku, mereka butuh teman. Dan aku ada disana. Tapi seiring berjalannya waktu karena memang tak pandai menjaga hubungan pertemanan, dan memahami orang lain, mereka akan pergi seiring berjalannya waktu. Ada apa dengan itu? Kata-kata jadilah dirimu sendiri, benarkah kita bisa menjadi diri sendiri di tengan tengah orang lain? Aturan aturan tidak tertulis, sepertinya sudah melekat tanpa kita sadari. Kau juga perlu memerhatikan orang lain jika kau tidak ingin dikucilkan. Menjadi diri sendiri, terkadang apa yang menurut kita benar, namun dimata orang lain salah. Apa menurut pribadi, namun masyarakat mengatakan lainnya. Benarkah bisa menjadi diri sendiri, tanpa memerhatikan orang lain? Mereka bertanya apakah kau tidak sadar telah melukainya, coba kalau kalimat tanya tersebut dibalik bagaimana denganku, apakah mereka tidak sadar melukaiku. Kalimat tanya instropeksi diri sendiri, harus terlontarkan terlebih dahulu. Memang terkadang hitam terlihat putih, putih terlihat hitam, karena memang tanpa kita sadari 2 warna tersebut memang ada di dalam diri. Ya sepertinya tak pandai mendengarkan curhatan mereka, kemudian memberikan saran, atau menanggapi bagaimana menurutmu, atau menanggapi bualan, ocehannya menanggapi orang lain. Dulu kamu mengatakan, kalau aku sih tidak tertarik dengan topik macam itu seperti yang kamu ceritain, aku lebih suka yang macam begini. Tetapi suatu waktu cerita cerita yang kau lontarkan berubah. Yah saya butuh netralitas, tapi apa daya apapun yang dilakukan tanpa sadar kita selalu punya kecenderungan.

Kamu lihat dulu dia membanggakan itu, namun kini ia membuangnya. Kamu lihat dulu ia membuangnya, kini kamu membanggakannya. Bagaimana kita merangkai kata dan sikap rayuan untuk mempertahankan diri sendiri, melatih dan membiasakan diri bangkit dari kerapuhan dan ketidakjelasan keadaan untuk bertahan di dalam kerumunan orang. Apakah kamu seorang yang yakin terhadap perkataan dari seseorang? Apalagi seseorang yang istimewa dalam hidupmu dapat memberikan energi dalam dirimu, atau kamu hanya orang yang yakin bahwa semua hal bergantung pada dirimu sendiri. Kedua duanya nyata adanya, aku memang termasuk orang yang percaya segesti perkataan orang lain, walaupun tidak semua perkataan orang lain dapat memberikan dampak. Terkadang itu menjadi bumerang kelemahan bagaimana kita sangat bergantung pada orang lain. Padahal seseorang itu dinamis, lantas jika perubahannya tidak sesuai dengan diri kita? Jika mereka menghilang dan pergi, apa yang terjadi pada diri kita. Itu menyakitkan dan melukai. Iya saya butuh netraitas

Kamu bangga ketika kamu bertahan, ketika yang lain pergi. Dalam diri kamu mengatakan bahwa kamu yang paling setia dan bla bla bla. Tapi apakah kamu tidak menyadari bahwa yang membuat orang pergi adalah karena dirimu. Itu bukan sesuatu yang aku inginkan. Kenapa setiap kali aku menuju tempat itu selalu ada masalah dalam diriku, ketakutan menuju suatu tempat, padahal ingin sekali akrab dengan tempat itu, namun kehendak alam mengizinkan ku terluka menuju tempat itu, dan kesimpulanku mengatakan kamu tidak cocok menjadi bagiannya. Kamu hanya cocok menjadi pengunjungnya, bukan bagian penting darinya. Katanya kelaurlah dari zona nyaman, lantas apakah ini yang dinamakan keluar dari zona nyaman, tetapi memaksa diri sendiri tersakiti. Apakah jalan lain harus kutempuh, dan apa itu?

Pernahkah mengharap inginnya mereka yang diterima, jangan dia. Akan tetapi apa yang terjadi? Kehendakku tidak sama dengan kenyataan. Tapi mereka dengan lapang menerimanya, tapi ada apa denganku yang masih meronta harusnya kan ....., kok mereka sepi, kok mereka ramai, protesmu tidak berguna, sadar-sadar. Ketika pendiam ngomong, tapi tiba-tiba omongannya menyakitkan hati semua orang akan pergi, karena mereka tak pandai memutar kata menarik simpati....,disitulah ketenangan kudambakan, penilaian netral ingin kurasakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Warna Warni Pelangi

Mengapa?