Dimana Pemimpin Tanpa Uang Sogokan Kampanye? Pemimpin yang Bermartabat Aku Rindu
Pemerintah,
adalah kata yang sangat tidak asing di telinga kita. Setiap hari kita mendengar
kata itu, di koran ,radio, televisi, dan media lainnya. Bahkan setiap hari
media memberitakan hal hal mengenai pemerintahan. Entah tentang kebijakan
pemerintah, masalah korupsi, rapat anggota dewan, kunjungan kerja, rencana
pembangunan, subsidi, konflik antar partai politik, dan masalah masalah lainnya
yang begitu komplek.
Negara indonesia
adalah negara demokrasi, yang menurut Abraham Lincoln pemerintahan dari rakyat
oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam menentukan pemimpin, negara demokrasi
menggunakan sistem pemilu. Degan memilih suara terbanyak. Dimana sebelum pemilu
para calon calon pemimpin mengkampanyekan dirinya dengan visi dan misi yang
begitu menarik hati rakyat, sehingga rakyat tertarik memiihnya.
Namun sudah
menjadi rahasia umum kalau untuk mendanai kampanye calon, entah itu kepala
desa, bupati/walikota, gubernur, DPR dan para wakil rakyat lainnya. Mereka
harus mengeluarkan dana yang begitu besar. Bahkan ada yang mencapai milyaran
rupiah hanya untuk menjadi calon pemimpin.Motivasi apakah yang menarik hati
mereka untuk menjadi pemimpin. Yang tentunya beresiko mengeluarkan materi yang
begitu besar, dan tanggung jawab yang besar. Kalau dihitung hitung mending
digunakan untuk membayar asuransi daripada hanya dibagi bagikan kepada masyarakat sebagai uang sogokan, yang belum jelas mereka dipilih atau tidak. Namun
dibalik itu semua mereka pasti mengincar akan mendapatkan materi yang lebih
banyak jika mereka mendapatkan kekuasaan itu. Tidak hanya materi yang mereka dapatkan,
tetapi juga pengaruh dari masyarakat, disegani, dihormati, dielu elukan oleh
masyarakat.
Jadi yang
dipertanyakan adalah mengapa mereka mau mengorbankan harta kekayaan mereka yang
begitu besar nilainya hanya untuk melayani masyarakat. Apakah mungkin jika
tujuan mereka hanya untuk melayani masyarakat. Kebanyakan di dalam realita
masyarakat, jika seseorang berprofesi sebagai pemimpin, baik di desa ataupun
pusat kekayaan mereka akan bertambah dari yang sebelumnya. Dan kebanyakan
pertambahan itu terlihat begitu drastis sekali di masyarakat. Sehingga banyak
gangguan psikologis yang timbul jika mereka tidak jadi menduduki jabatan
pemegang kekuasaan tersebut.
Tetapi anehnya
masyarakat acuh tak acuh saja dengan fenomena fenomena itu. Mereka menganggap
hal itu biasa saja. Jika setiap bakal calon pasti akan membagi bagikan uang
atau barang dalam rangka mengkampanyekan diri. Padahal hal itu dilarang oleh
undang undang. Anggapan anggapan yang muncul dalam masyarakat adalah siapa yang
paling banyak memberi materi pasti dia yang akan menjadi pemimpin. Dimanakah
sikap peduli masyarakat terhadap masalah tersebut. Mereka memprotes jika harga
harga kebutuhan hidup sehari hari meningkat. Kemudian mereka menyalahkan
pemerintah. Sebenarnya siapa yang salah?. Mereka yang memilih, mereka yang
protes. Seharusnya masyarakat berfikir jika calon pemimpin yang membagi bagikan uang,
mereka pasti akan menarik uang nya kembali dari masyarakat, bahkan lebih untuk
kepentingan dirinya sendiri. apa mungkin mereka mau merugi, dengan mengeluarkan
uang dan dibagikan secara cuma cuma kepada masyarakat. Tentunya tidak. Pada
dasarnya manusia itu selalu mencari keuntungan dalam menjalani kehidupan ini.
Baik yang tampak maupun yang tidak.Sudah tepatkah negara ini jika dalam proses
pemilihan pemimpin dilakukan dengan cara pemilu?. Dimana sebagian masyarakat masih
awam pengetahuannya tentang kekuasaan negara.
Money politik
dalam pencalonan pemimpin sudah menjadi rahasia umum. Dan ironisnya tak ada
yang berani melaporkan karena alasan tidak mau berhubungan dengan hukum atau di
pengadilan, karena untuk melaporkan ke pengadilan saja tidak gratis butuh uang.
Apalagi kalau orang yang kita laporkan orang yang berduit, yang mampu membayar
pengacara mahal untuk menyelesaikan kasusnya. Sudah menjadi rahasia umum lagi
jika pengacara pasti akan membela kliennya baik itu benar ataupun salah. Orang
yang berduit bisa melakukan sidang 17 kali bahkan lebih untuk memutuskan perkaranya.
Tetapi jika orang dengan ekonomi bawah berurusan dengan pengadilan, sehari dua
hari pengadilan saja sudah keluar vonis. Sudah adilkah hukum di negara ini.
benarkah ungkapan keadilan hukum hanya berlaku untuk orang kaya.
Lihat saja di
kepolisian negara indonesia ini, banyak sekali para mafia mafia SIM. Yang
menerima uang sogokan. Bahkan itu terjadi di dalam kantor polisi itu sendiri.
mereka yang mampu membayar dengan uang, tidak harus melakukan seleksi dan tes.
Dan itu pun dari dulu sampai sekarang tidak ada satu pun hukum pengadilan tegas yang menyoroti hal tersebut.
Padahal itu merupakan tindak pidana penyelewengan. Mereka menganggap hal itu
sudah biasa. Mereka seolah olah tidak takut akan hukum. Kepolisian yang
menangkap para penjahat saja melakukan kejahatan. Bahkan secara terang
terangan. Sudah benarkah hukum di indonesia ini sesuai dengan prinsip
keadilan tidak membeda bedakan status.
Pemimpin yang
baik adalah pemimpin yang tergerak oleh hati nuraninya untuk menjadi seorang
pemimpin yang peduli dan berniat ikhlas mengayomi masyarakat. Mereka tidak
memaksa rakyat untuk memilihnya. Dengan cara money politik atau apapun itu.
Jika mereka pantas untuk menjadi pemimpin maka rakyat pun dengan senang hati
memilihnya. Tidak ada pencitraan yang berlebihan. Agar mereka terlihat
berwibawa. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cerdas dan bermoral baik.
Cerdas dalam mengatasi permasalahan dan memberikan solusi kepada masyarakat. Moral
mulia hati nuraninya dalam setiap tindakan maupun tutur katanya dalam membela kebenaran.

Komentar
Posting Komentar