Suatu Cerita Berkelana
ketika satu bulan telah terlewati.........
Terlihat gedung pencakar langit
disebelah sana, ketika aku duduk disini, awan bergumpal putih berkilauan
memayunginya. Terbayang akan mimpi memiliki sebuah perusahaan yang menjulang
langit. Dan hari ini khalayanku terbangun kembali.
Melihat keramaian kota ini dari atas.
Udara bercampur polusi cukup terasa, meskipun angin menerpa begitu kencang.
Riuh kendaraan suasana kota terdengar jauh saat berada diketinggian gedung ini.
Termenung asyik melepas lelah, berkhayal bebas tanpa batas. Teringat sebuah
kalimat “ berkhayallah semamumu karna berkhayal itu gratis, penemuan
besar berasal dari mimpi “. Yang menyadarkan daku untuk selalu bermimpi
dan berharap.
Tak terasa langit mulai gelap,
mengisyaratkan untuk bergegas kembali ke perlindungan. Awan hitam bergumpal
seketika mengubah kilauan langit kota. “ Sudah lama aku merindukan hujan di
kota ini ”, ucapku dalam hati. Kota dengan suhu panas, polusi udara dimana
mana, setiap hari kendaraan beramai ramai memadati dan menyerbunya. Kepadatan
yang terasa di jalan membuat aku semakin penasaran apa yang menyebabkan mereka
mau tinggal di kota ini. Asap debu, kenalpot, suara klakson, begitu tak
bersahabat dengan tubuh ini. Hati yang masih terpaut dengan kota kelahiran.
Ya masih 1 bulan aku menetap di kota
metropolitan ini, suasana yang jauh kurasakan di kota kelahiranku. Suhu udara,
air, tanah, yang berbeda. Dan aku masih belum sepenuhnya teradaptasi dengan
lingkungan baru ini. Begitu panas, membakar kulit, kemacetan dimana mana.
Halaman rumah pun belum kutemui yang terdapat pohon pohon hijau menjulang.
Paving disetiap depan rumah. Pantas saja sering banjir kala air langit turun, tak ada resapannya. Sungguh aku sangat merindukan air hujan turun di kota ini.
Hujan deras membasahi kota, melihat hujan dari cendela. Namun sayangnya tak ada
cendela di perlindunganku saat ini. Keluar rumah merasakan segarnya aroma air
hujan, cukup mengingatkaku betapa agung kuasa sang Tuhan.
Hujan selalu memberikan sebuah
kenangan, kesan yang mendalam dalam kalbu ini, teringat masa kecil, orang tua,
keluarga, maupun teman, disekolah, dirumah, di jalan. Suasana yang sulit untuk
dijelaskan, entah kenapa hujan mengingatkan memoriku tentang mereka. Kerinduan perlahan lahan muncul dengan pasti,
kerinduan akan kebersamaan. Di perantauan, menguatkan tekad untuk menjalani kehidupan, dan mimpi-mimpi
ini. Seiring hujan turun tak terasa air mata mengalir membasahi pipi. Mengingat
semua kenangan dan kerinduan.
Apakah
dapat kusampaikan kalimat ku ini lewat hujan dari langit. Rasa yang ingin
kusampaikan seperti air hujan, tidak mungkin hujan hanya turun satu tetes,
bermilyar milyar tetes air, yang menghujani bumi.
Komentar
Posting Komentar