Ikhlasnya CINTA (dikutip dari media sosial)




Apakah ini termasuk terjerumus dalam lautan dosa zina, karena mencintai bukan karena ridlo sang pencipta, namun saya hanya manusia biasa yang memiliki fitrah untuk jatuh cinta, yang berusaha menjaga diri, namun terkadang masih merapuh, oleh karena itu selalu membutuhkan petunjuk dan bimbingan- Nya

Dan inilah torehan cerita ketika fitrah sebuah rasa yang bernama jatuh cinta pernah terurai, namun yang dikira hanya menunggu diri ini, ternyata terdapat dambaan lain yang telah bersarang dihatinya

Sakit memang bila dirasa, atas semua perhatian yang diberikan selama ini, nampak memberikan harapan bahwa daku telah masuk dihatinya, namun ternyata....aku harus mengikhlaskannya, karena ada pilihan lain yang lebih menarik dan ia damba selain diri ini”

Kalau ada yang bilang bahwa puncak dari cinta adalah doa, maka aku rasa batas akhir dari cinta adalah kerelaan. Karena aku tidak pernah sepakat bahwa cinta itu tidak harus memiliki.

Bagi kalian yang telah merelakan ketidakbersamaan, maka aku rasa kalian pun sedang meleburkan rasa yang kalian sebut itu cinta. Ketika fase rela telah kalian capai, maka cinta sudah usai. Memupuk keikhlasan sedikit demi sedikit meski terkadang sakitnya masih terus berbisik-bisik.

Pada akhirnya kalian ikhlas, karena sadar telah memahamkan bahwa usaha kalian tak terbalas. Bukan gagal, kalian berhasil dilain hal. Bukan keberduaan yang membahagiakan kau dapatkan, tetapi kesendirian yang mendewasakan.

Jikalau ternyata hati masih bersi keras untuk tetap mencinta, maka hasrat memilikimu masihlah ada. Diantara ketidakmungkinan dan kemungkinan itu, kalian masih mencoba dan menunggu. Berharap ada kabar cinta yang hambur lalu kamu bisa datang untuk menggantikan yang telah kabur.

Jikalau masih saja hati bersi keras mencinta, berarti jiwa masih menganggap dialah satu-satunya. Berasumsi tiada lagi selainnya, sehingga tak membiarkan selainnya masuk membuka. Seakan seperti rumah yang telah dipesan via layanan suara tetapi sang penyewa tak masuk-masuk jua. Seakan telah ada yang tinggal tetapi sepi adanya.

Jangan salah, mungkin ketertahanan cinta itu adalah cara Tuhan untuk membuatmu tetap sementara ada pada satu cinta. Mungkin bahkan dalam waktu yang lama agar kamu tidak kembali pada perjuangan yang salah. Diajarkan secara matang tentang penantian yang sia-sia agar pada akhirnya ketika dipertemukan dengan yang sejatinya maka akan menjaga secara sebenarnya. Bukan lagi bermain dalam lindungan kata cinta, tetapi dewasa dalam mahligai hakikat makhluk yang dicipta berpasang-pasangan.

Atau memang, Tuhan sedang mengajarkanmu tentang seni menunggu sembari sedikit tersakiti. Memang dia yang kamu cinta yang akan kau dapati, tapi proses menunggu itu harus kau penuhi.

Tenang, kesendirian itu selalu sementara. Karena kebersamaan pun tak akan pernah selamanya.

Kesendirian hanyalah kata-kata di kehidupan lahiriah dunia. Secara batiniah seharusnya kau tak pernah benar-benar sendirian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Warna Warni Pelangi

Mengapa?

Curhatan