Ungkapan
Kau
tau apa yang aku rasakan, ya mungkin kau hanya mengira apa yang ada di dalam
fikiranku, tapi kau tidak benar benar tahu apa yang sedang aku rasakan ataupun
orang lain rasakan. Meskipun terkadang tebakan yang kau lontarkan benar. Ya kau
hanya tau situasi yang sedang aku alami ataupun oranglain alami, ketika suasana
yang kau ekspektasikan sama dengan apa yang pernah kamu alami. Padahal itu yang
kau alami, bukan yang aku alami dan orang lain alami. Mungkin ada sebagian
orang mengatakan suasana yang seseorang alami dapat terlihat dari raut muka
mereka, hmm apakah itu karena kebanyakan indera manusia berada di bagian wajah.
Indera penglihatan, indera penciuman, indera perasa apalagi mulut, dari situlah
kata kata apa saja yang kita keluarkan, sekaligus apa yang akan masuk ke dalam
aliran tubuh dan bahkan fikiran kita berada di tulang yang sama dengan wajah.
Hari
itu merasakan suatu gejolak dalam suasana yang terbentuk menjadi sebuah ungkapan
emosi yang ada di dalam diri. Entah itu dia pergi atau hanya sekedar lelah dan butuh
istirahat sebentar, kembalilah lagi... Apa yang kalian lakukan jika lelah,
entah kalian berfikir kenapa harus melakukan hal itu. Jika kalian tau itu
adalah suatu bagian pembuat kekacauan. Merubah suatu perspeksi yang ada di
dalam pemikiran setiap orang.
Sebuah
kata kata seseorang dapat mensugesti diri, kenapa harus bergantung dengan
seseorang. Mendengar atau membaca tulisannya seolah mensugesti diri. Membalik mood
seketika, dan apa yang ingin kamu lakukan? Seolah olah harus bergantung kepada
perkataannya dan mengikutinya.
Senja
tidak sedang menyapa, hari itu malam sudah menyapa. Memberikan pesan kegelapan
alam telah tiba. Tapi kalian tahu sekarang sudah ada cahaya lampu yang menyapa.
Ku tanya alasan kepergianmu, tak kunjung jua kau memberi tahu apa yang terjadi,
apa yang kau rasakan. Kau lelah butuh istirahat, mengeluarkan diri dari kata-kata yang mungkin tidak ingin kau baca. Kau memberikan jawaban yang tidak ingin
kubaca. Betapa mahalnya sebuah rasa kepercayaan, kaupun tak memberikanku celah
untuk mengetahuinya.
Sebuah
pesan meluncurkan sebuah misi yang mungkin bermaksud membalikkan kalimat. Angin
itu menerpa, aku tidak tahu harus melakukan apa. Ku harap tetap dalam angan
yang hingga kini tetap menjadi impian, yang belum kutemukan sekarang. Apa yang
ingin kau tuju, aku ingin mengatakan apa tujuanku, tujuanku sebenarnya masih
menjadi perenungan. Tidak tahu di depan telah menunggu kejadian apa.
Apakah
engkau ingin pergi, ketika ada kehadiranku. Pergilah jika butuh pergi, ajarkan
aku sebuah pentingnya arti kehadiranmu, tapi tidak meruntuhkan kehadiranku
sendiri. Ajarkan dan ingatkan aku saat aku lupa kamu masih ada. Kamu bebas
menentukan pilihan, akupun bebas menentukan pilihan, dan mereka juga bebas
menentukan pilihan. Ajarkan aku bagaimana pilihan-pilihan yang terambil tidak saling
bersinggungan dan mengganggu, jika kata bebas yang terpilih.
Komentar
Posting Komentar