Menghadapi Deforestasi Akibat Perluasan Perkebunan Kelapa Sawit dan Geopolitik Global



Salah satu produk unggulan hayati Indonesia adalah kelapa sawit. Dalam perekonomian makro, kelapa sawit memiliki peran strategis yaitu sebagai penghasil devisa terbesar, pendorong sektor ekonomi masyarakat, dan penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2018, ekspor minyak kelapa sawit secara keseluruhan mengalami kenaikan sebesar 8% atau dari 32,18 juta ton pada 2017 meningkat menjadi 34,71 juta ton pada tahun 2018. Selain peningkatan ekspor hasil produksi kelapa sawit, menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan, luas area lahan perkebunan sawit juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2018 luas area lahan perkebunan kelapa sawit sebesar 14,327,093 ha, sedangkan pada tahun 2019 luas area lahan tercatat sebesar 14,677,560 ha, naik sekitar 2,4%. Saat ini Indonesia menduduki peringkat teratas berdasarkan kuantitas perluasan perkebunan dan laju penanaman kelapa sawit. Peringkat ini menjadikan  Indonesia sebagai produsen sawit nomor satu di dunia diikuti oleh Malaysia. Tanah Indonesia merupakan salah satu jenis tanah di dunia yang cocok untuk tumbuh berkembangnya kelapa sawit, tidak semua negara tanahnya subur untuk tumbuh kembangnya kelapa sawit. Negara Uni Eropa sedang gencar untuk mengembangkan biodiesel, yaitu bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati. Salah satu sumber bahan baku pembuatan biodiesel adalah kelapa sawit. Disinilah Indonesia sangat diuntungkan dari segi geopolitik global karena kelapa sawit. Uni Eropa memiliki ketergantungan terhadap suplai kelapa sawit. Namun ditengah pesatnya pertumbuhan ekonomi kelapa sawit, permasalahan muncul terkait deforestasi untuk pembukaan lahan baru perkebunan kelapa sawit. Masalah tersebut berdampak bagi kerusakan lingkungan dan konflik sosial.  

Seiring dengan pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi dan perubahan selera masyarakat, permintaan terhadap produk minyak sawit dan turunannya juga semakin meningkat. Melihat prospek menguntungkan dari kelapa sawit, mengakibatkan banyak terjadi perluasan perkebunan kelapa sawit setiap tahun. Lonjakan  pembangunan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit, merupakan salah satu penyebab dari deforestasi. Meskipun memiliki peran yang strategis bagi perekonomian nasional, perkebunan kelapa sawit saat ini juga mempunyai dampak negatif terhadap masyarakat, terutama kerusakan lingkungan yang mengakibatkan deforestasi. Kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun merupakan petaka yang harus dirasakan oleh masyarakat sekitar. Selain itu dampak yang signifikan dari deforestasi adalah perubahan iklim secara global. Menurut data yang dirilis oleh World Resource Institute pada tahun 2012, Indonesia menjadi negara terbesar keenam penghasil emisi karbon di dunia dengan 1,98 miliar ton emisi CO2 per tahun. Deforestasi berkontribusi pada pemanasan global yang terjadi karena adanya peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang menyebabkan kenaikan suhu udara global. 

Kelapa Sawit menyumbangkan devisa yang besar bagi negara. Inilah yang menjadi alasan utama pemerintah dan berbagai pihak berkepentingan dengan geopolitik global memerangi kampanye anti sawit. Mereka menuduh bahwa kampanye dan pengungkapan temuan kerusakan hutan adalah bagian dari agenda perang dagang yang tidak menginginkan majunya industri sawit di Indonesia. Namun faktanya dalam proses bisnis kelapa sawit, pembukaan lahan baru untuk perkebunan mengekspoitasi alam secara berlebihan. Eksloitasi alam secara berlebihan dan ilegal menyebabkan berbagai macam penurunan kualitas lingkungan yang dapat mengancam keselamatan kehidupan manusia. Kerusakan hutan, hilangnya kesuburan tanah, pengotoran udara, kelangkaan air, dan berbagai problem lingkungan lainnya adalah dampak dari deforestasi.  

Perdebatan isu perubahan iklim saat ini masih berkembang. Negara maju dengan aktivitas industrinya tentu sebagai penyumbang gas rumah kaca terbesar di atmosfer. Namun deforestasi dan degradasi yang dialami oleh negara pemilik hutan hujan tropis juga turut andil. Indonesia pemilik hutan hujan tropis terbesar ke tiga di dunia, oleh karena itu Indonesia mempunyai peran vital untuk menyediakan oksigen bagi dunia. Namun di Indonesia permasalahan deforestasi muncul salah satunya karena pembukaan lahan baru sebagai perkebunan kelapa sawit, dimana kelapa sawit Indonesia merupakan penyumplai ekspor sawit terbesar di dunia. Produksi kelapa sawit di Indonesia juga merupakan permasalahan geopolitik global. Tidak semua kondisi alam suatu negara cocok untuk budidaya kelapa sawit. Indonesia sebagai penghasil kelapa sawit menyediakan sumber bahan baku pembuatan biodiesel. Pengembangan biodiesel merupakan salah satu cara untuk mengurangi karbon dioksida yang dihasilkan oleh bahan bakar minyak yang tengah digencarkan dunia. Pengembangan biodiesel ini dikembangkan karena dianggap sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan. Namun disisi lain sumber bahan baku yang digunakan yaitu kelapa sawit dalam proses produksinya berada di wilayah hutan hujan tropis harus mengalami deforestasi untuk pengembangan luas lahan perkebunan kelapa sawit. 

Budidaya kelapa sawit harus dikembangkan secara berkelanjutan. Perkebunan kelapa sawit berkelanjutan merupakan penerapan dari konsep pertanian berkelanjutan, yaitu sistem pertanian yang berorientasi pada keseimbangan ekonomi, sosial, dan ekologi. Tuntutan tersebut direspons melalui penerapan standar ISPO dan RSPO dalam perkebunan kelapa sawit. Setiap bentuk pemanfaatan sumberdaya alam oleh manusia untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya akan selalu bersentuhan dengan dimensi politik. Hal ini dikarenakan sebagian sumberdaya alam bersifat terbatas dan dibutuhkan oleh banyak orang, sehingga dimungkinkan terjadi perebutan untuk mendapatkannya. Siapa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan akan mendapatkan bagian lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. Dari sinilah sering muncul adanya ketidakadilan dalam mendapatkan kemanfaatan dari sumberdaya alam yang ada. Kerakusan manusia menimbulkan degradasi alam yang menghancurkan ekosistem.  

Saat ini Indonesia sudah menjadi eksportir kelapa sawit terbesar di dunia. Maka dari itu sudah tak perlu lagi untuk memperluas lahan perkebunan kelapa sawit yang mengakibatkan deforestasi. Yang perlu dikelola dan ditingkatkan adalah bagaimana cara menjaga kualitas hasil kelapa sawit dan menghindari gagal panen. Selain itu pemerintah harus membuat kebijakan pengontrolan harga kelapa sawit di tingkat petani untuk melindungi harga rendah yang ditentukan pasar. Peraturan hukum harus ditegakkan untuk menjaga kelestarian ekosistem yang ada. Perusahaan perkebunan sawit yang melanggar harus benar-benar dihukum. Kawasan hutan lindung harus dijaga ketat dari perluasan lahan perkebunan kelapa sawit. Karena deforestasi dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan yang berdampak pada degradasi tanah, air, dan udara.  

DAFTAR PUSTAKA
Angi, Eddy Mangopo, dan Catur Budi Wiati. 2017. Kajian Ekonomi Politik Deforestasi dan Degradasi Hutan dan Lahan di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa 3 (2) : 63-80.
Barri, Mufti Fathul, dkk. 2018. Deforestasi Tanpa Henti “Potret Deforestasi di
Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Maluku Utara”. Bogor : Forest Watch Indonesia.
Data Luas Areal Kelapa Sawit Menurut Provinsi di Indonesia, 2015-2019. Diakses dari https://www.pertanian.go.id/ pada 11 Oktober 2019 pukul 19.12 WIB. 
Hidayat, Herman. 2019. Deforestasi dan Ketahanan Sosial. Jakarta : Obor. 
Kementerian Perdagangan RI. 2015. Laporan Akhir Analisis Strategi Indonesia untuk Meningkatkan Akses Pasar Produk Crude Palm Oil (CPO)  Indonesia ke Amerika Serikat . Puska KPI. BP2KP. Kementerian Perdagangan.
Purba, Jan Horas V, dan Tungkot Sipayung. 2017. Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan. Jurnal Masyarakat Indonesia 43(1) : 83-92.
Siswoko, Bowo Dwi. 2008. Pembangunan, Deforestasi dan Perubahan Iklim Development, Deforestation and Climate Change. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 14(2). 88-94. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Warna Warni Pelangi

Mengapa?

Curhatan